Bedah Buku “SEJARAH DAN KEUTAMAAN ISTIGHATSAH”

Pentingnya Mengetahui Sanad Istighotsah serta Dzikir

Ishomuddin Ma’sum, M. Pd.I; KH. M. Sholeh Qosim, M.Si; KH. Wahid Harun; dan Dr. KH. Wasid Mansyur, M. Fil.I (Wakil Ketua PW LTN NU JATIM)

Ahad (27/5), Pengajian yang bertajuk “Sejarah dan Keutamaan Istighatsah” di Masjid Agung Sidoarjoini mendapatkan antusiasme yang tinggi dari masyarakat. Pasalnya walaupun dalam keadaan berpuasa, ratusan orang datang dan menghadiri bedah buku ini untuk menelisik Istighatsah yang selama ini diamalkan warga Nahdliyin.

Narasumber yang sekaligus pengarang buku Sejarah dan Keutamaan Istighatsah, KH. Ishomuddin Ma’sum, M. Pd.I. menuturkan bahwa pada tahun 1960, KH. Imron Hamzah mulai mengenalkan dan menyebarluaskan susunan wirid dari guru beliau, KH. Romly Tamim dari Rejoso, Peterongan. Wirid tersebut aslinya bernama Al-Istighatsah bi Hadratin Rabb-al Bariyyah, yang diawali dengan riyadhah panjang sang mursyid dan ilham langsung dari banyak orang mulia di antaranya adalah Rasulullah, Nabi Musa as., dan seterusnya seperti Mbah Sunan Ampel melalui mimpi dan penglihatan langsung.

Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari dan Kyai Wahab Hasbullah juga menitipkan wirid pada KH. Romly Tamim karena mengetahui betapa istimewanya Istighatsah ini bagi warga Nahdliyin.

Dengan demikian pengajian ini benar-benar membuka mata jamaah yang hadir bahwa Istighatsah memiliki dasar yang kuat dalam Islam, dan wirid merupakan ikhtiar doa kita untuk minta penataan hidup dari Allah untuk hal-hal sirri yang terjadi dalam hidup kita; Istighatsah dengan versi sanad, sudah menjadi brand NU yang memiliki urutan dan lafadz yang pakem.  Semoga kita selalu berada dalam perlindungan Allah.