Safar Ajarkan Tangguh Berikhtiar oleh Ust Ribut Nur Huda, S.Hum, M.P.dI, M.A

Safar merupakan bulan kedua setelah muharram dalam kalender Hijriyah. Secara bahasa, Safar artinya kosong sebagaimana orang Arab Jahiliyah di Mekkah ketika memasuki bulan Safar berbondong-bondong pergi sehingga kota menjadi kosong. Masyarakat Arab meyakini bulan Safar sebagai bulan apes dan bala’.

Rasulullah Saw meluruskan keyakinan tersebut dengan pandangan baru bahwa Safar adalah bulan netral, bukan nahas. Nabi mengajak umatnya agar tangguh menjalani ikhtiar tanpa dibayangi oleh mitos bulan nahas sebagaimana kayakinan orang-orang Arab Jahiliyah. Seperti disebutkan oleh Habib Abu Bakar al-‘Adni bahwa Rasulullah memilih waktu menikah dengan Sayidah Khadijah pada bulan Safar, demikian pula saat  menikahkan Sayidah Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib. Termasuk hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah dan beberapa perang seperti perang Abwa’ atau perang pertama kali menghadapi orang kafir juga dilakukan di bulan Safar.

Tidak ada lagi ketakutan atau kekhawatiran terhadap keyakinan kliru bahwa Safar adalah bulan sial.

Mengenai hal ini, sabda Rasulullah Saw sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim bahwa :

“tidak ada wabah/pandemi, tidak pula ramalan sial, tidak pula burung hantu dan juga tiak ada kesialan pada bulan Safar. Menghindarlah dari penyakit kusta sebagaimana engkau menghindar dari singa”.

Artinya sakit, musibah atau bala’ semua kembali kepada kehendak dan takdir Allah dan umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak istighfar dan bersedekah sehingga dijauhkan oleh Allah dari berbagai musibah. abadi seperti dalam puisi Arab terkenal.

Selain itu, sikap mental menyalahkan masa atau zaman seperti mengatakan ‘zaman edan’, ‘bulan apes’ dan ‘hari nahas’ adalah tercela menurut agama sebab masa adalah makhluk Allah yang harus dihormati.

Hari-hari dalam kehidupan harus diisi dengan amalan terbaik karena kebaikan yang banyak akan menjadikan pelakunya. abadi seperti dalam puisi Arab terkenal:

الأَيَّامُ صَحَائِفُ الأعَمَالِ #

 فَخَلِّدُوْهَا بِأَحْسَنِ الأَعْمَالِ

Hari-hari ibarat tumpukan lembar perbuatan # abadikanlah dengan perbuatan terbaik”

Ketangguhan seorang hamba dalam sebuah ikhtiar bukanlah mengandalkan sebab-akibat secara kasat semata, melainkan harus mengandalkan secara bathin yaitu Allah sebagai sebab dari segala sebab dan penentu takdir, sehingga dengan demikian ikhtiar hamba itu sempurna.

Kepercayaan bangsa Arab kepada ramalan atau isyarat suara burung hantu harus diganti dengan prediksi yang didasari ilmu dan pengalaman yang cukup Keyakinan bahwa setiap hari rabu, terutama rabu terakhir di bulan Safar adalah hari sial sebagaimana dikenal di Jawa dengan istilah rebo wekasan’, justru dalam Islam sebaliknya. Siapa pun yang menghendaki urusannya berakhir  sempurna hendaknya memulainya hari rabu.

Ilham yang diterima ulama’ tasawuf bahwa konon melihat ribuan bala’ (musibah) turun di hari rabu wekasan justru sebenarnya membuka pintu bala’ itu sendiri sebab Allah menyesuaikan rahmat atas hambanya sesuai dengan prasangka hamba itu sendiri sebagaimana keterangan hadist qudsi. Sebagai adab seorang mukmin, menghormati sebagian wali yang mukasyafah atau telah melihat turunnya bala’tersebut adalah suatu keharusan dengan tetap berpedoman bahwa hari rabu sebenarnya adalah diciptakannya cahaya, hari berkah dan untung, bukan hari bunting.

Amalan rebo wekasan yaitu amalan yang boleh disyiarkan karena menganjurkan shalat mutlak atau shalat hajat dengan membaca do’a keselamatan atau tolak-balak (malapetaka) secara berjama’ah sebagaimana do’a yang diaminkan oleh 40 orang adalah mustajab, disamping menganjurkan sedekah dan saling memberi diantara sesama.

Bulan Safar hendaknya dimaknai sebagai bulan tangguh, pasrah  berdo’a meminta keselamatan dan diangkatnya musibah, berikhtiar dengan do’a memohon hajat duniawi maupun ukhrawinya dikabulkan lantaran berkahnya Nabi Muhammad saw, keluarga beliau dan para wali yang berhati bersih.