HAFAL AL-QURAN SEMUDAH DAN SECEPAT NGOPI

وَلَقَدْ يَسَّـرْنَاالْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرْ

Pengajian Ramadlan minggu ke-3 kali ini begitu menyentuh. Bagaimana tidak, di tengah penjelasan KH. Ainul Yaqin, SQ., pengasuh PP Hamalatul Quran, Jombang, tampak ada usapan air mata di sapu tangan Dr. KH M Sholeh Qosim selaku moderator pagi hari itu.

“Sesuatu yang datang dari lubuk hati, akan sampai pada lubuk hati pula”, agaknya ungkapan ini berkali-kali teruji nilai kebenarannya. Ketersambungan batin antara wali santri, guru dan santri adalah piramida indah yang mengukir keberhasilan pencapaian ilmun nafi’.

Dalam pengajian pagi itu disampaikan, adalah sebuah fakta bahwa dari sekian kitab suci yang dimiliki oleh pemeluk agama, hanya Al-Qur’an yang dihafal oleh ummatnya. Hal ini pula yang membangun keyakinan bahwa ‘karomah’ (kemulyaan) itu akan turun apabila mengamalkan ilmu yang berkaitan dengan Al-Quran. Perjalanan riyadhoh batin yang digambarkan oleh Kyai Ainul Yaqin memberikan tauladan bagi kita bahwa proses pencarian keberhasilan itu menemui beragam rintangan. Ada dua macam riyadhoh yang beliau kisahkan, antara lain 1). Jalur cepat (ibarat bepergian berkendaraan) yakni dengan puasa dan 2). Jalur biasa (ibarat bepergian jalan kaki) yakni tanpa puasa.

ALLOHUMMA PEKSO, kaidah itu yang senantiasa digaungkan kepada para santri beliau untuk menjalani rutinitas pembiasaan 5 jus setiap hari bagi para calon hafid dan hafidhoh. Satu juz tiap ba’dha sholat maktubah, kecuali setengah juz ba’dha sholat Subuh ditambah setengah juz ba’dha sholat Dhuha. Konsep ini memiliki kesamaan dengan yang didawuhkan KH. Masduqi Mahfudz yang senantiasa melecut santri beliau dengan dawuh “NAWAITU MEKSO AWAK, LILLAHI TA’ALA..”

Dikaitkan dengan ilmu perkembangan otak (neoroscince), bahwa untuk memperkuat memori sebuah informasi yang tersimpan di otak, perlu diberikan pemajanan berulang kali, ‘ practice makes perfect*’ dengan istilah yang lain “*al-istiqomatu khoirun min alfi karomah”