BELAJAR TEKUN DARI IBNU HAJAR

Oleh : Ust. RIBUT NUR HUDA, S.Hum, M.Ed, Mustasyar PCINU SUDAN

Al-Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani merupakan ulama yang sangat tekun mencari ilmu. Sejak masih berusia 4 tahun (tahun 777 H), Ibnu Hajar sudah ditinggal wafat oleh sang ayah. Hanya dalam waktu 4 tahun sang ayah mendidik dan membiasakan si kecil Ibnu Hajar dalam amal-amal kebaikan hingga di usia 9 tahun sudah menghafalkan Al-Qur’an, disamping juga matan Alfiyah Al-Iraqi dalam ilmu hadis dan Mukhtashar Ibnu Al-Hajib dalam ushul fiqh. Sebagai anak yatim, Ibnu Hajar menjalani kerasnya kehidupan sebagaimana juga dijalani oleh ulama sebelumnya Al-Imam Al-Hafidz Abdurrahim bin Al-Husein Al-Iraqi atau ulama sesudahnya Al-Hafidz Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuti yang sama-sama yatim semasa kecil Belajar dari kehidupan yang dialami oleh Ibnu Hajar, malakah (skill) dan kecerdasan seseorang bisa tumbuh baik di tengah masyarakat muslim dalam keadaan bagaimana pun. Hal ini bersumber dari keteladanan Nabi Muhammad Saw yang berpengalaman lahir sebagai yatim, kemudian dituntut hidup mandiri dengan menggembala kambing, lalu berdagang dengan modal orang lain dan berakhir memimpin masyarakat. Hal ini juga bukan tanpa sengaja. Beliau diyatimkan oleh Allah swt agar menjadi teladan bagi umatnya dalam kesabaran berbuat baik (صَبْرٌ) dan kesabaran melakukan perbaikan (مُصَابَرَةٌ). Ciri khas masyarakat muslim yang menghargai kontribusi, saling asih dan memperkuat persaudaraan, tidak mendzalimi dan menutupi keahlian serta kemampuan siapa pun tercermin dalam kehidupan Ibnu Hajar.

yang lahir sebagai anak yatim. Masyarakat di masanya mengamalkan pesan Al-Qur’an; “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah saudara”. Syekh Nuruddin dalam pengantar kitab tahqiq Nuzhatun Nadzor menceritakan bahwa Ibnu Hajar mendapatkan perhatian para guru karena nampak menonjol sejak masih berusia 5 tahun diantara temannya-temannya di bangku TPQ.  Setelah Al-Qur’an selesai, Ibnu Hajar mendalami sastra, sejarah dan menjadi penyair ulung. Diantara syairnya ada dua bait yang menyampaikan pesan bahwa tiga perkara dunia tidak akan membuat seseorang rugi dan celaka selamanya. Tiga perkara tersebut; (1) tidak bergantung pada para pemburu dunia dan selamat dari kelalaian mereka, (2) sehat jasmani dan (3) mengakhiri kebaikan dengan kebaikan (husnul khotimah).    Syair tersebut berbunyi :

ثَلَاثٌ مِنَ الدُّنْيَا إِذَا هِيَ حُصِّلَتْ # لِشَخْصٍ فَلَنْ يَخْشَى مِنَ الضُّرِّ وَالضَّيْرِ.غِنًى عَنْ بَنِيْهَا وَالسَّلَامَةُ مِنْهُمُ # وَصِحَّةُ جِسْمٍ ثُمَّ خَاتِمَةُ الْخَيْرِ

Penguasaan ilmu-ilmu bahasa Arab bagi Ibnu Hajar bukanlah tujuan, karena hal itu telah menjadi salah satu rukun keilmuan ulama Salaf yang tidak bisa dilewatkan. Hal ini berbeda dengan pengkaji Islam zaman sekarang yang tidak sedikit dari mereka  menyepelekannya. Pada tahun 796 H, Ibnu Hajar menekuni keilmuan hadist dan berguru kepada ulama hadist pada zamannya, baik di Mesir, Mekkah, Palestina, Suriah dan lainnya. Ketelitian dan keistiqomahan Ibnu Hajar dalam hadist nampak dari kecepatan saat membaca Shahih Bukhari yang dikhatamkan hanya dalam sepuluh kali duduk di setiap selesai shalat Dzhuhur hingga waktu Asar dan membaca Shahih Muslim hingga khatam hanya dengan lima kali duduk selama dua hari setengah. Ibnu Hajar tutup usia pada th 852 H, di Kairo, & meninggalkan banyak murid serta karya lebih dari 150 kitab dengan kekayaan subtansi dan ketelitian yang tinggi, diantaranya Fathul Bari. Meskipun telah mencapai maqom yang tinggi dengan ketekunanya, Ibnu Hajar tetap tawadlu. Wallahu A’lam